Jumat, 06 November 2009

Desa Wisata, mensinergikan Pertanian dan Pariwisata dalam Membangun Desa



Keberadaan sektor pertanian di tengah pesatnya perkembangan sektor pariwisata, kini terkadang dipandang sebelah mata. Alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian saat ini semakin tak terbendung. Lahan produktif tak lagi menghasilkan tanaman untuk kebutuhan manusia. Bahkan, sebagian lagi dibiarkan telantar setelah dikuasai investor. Ironisnya, sektor pertanian yang diwarisi turun-temurun kini kehilangan generasi penerus. Sedikit generasi muda yang mau terjun ke sektor yang terkesan berlumpur, hasilnya rendah dan perlu waktu lama. Dan, hamparan sawah yang ada kini hanya dikerjakan oleh orang yang berusia senja yang memang sangat menekuni hal tersebut di tengah godaan gemericik dolar dari pariwisata atau karena memang tak ada pilihan lain. Bagaimana dengan Desa Pakraman Kedewatan Ubud?

--------------


DESA Pakraman Kedewatan, Kecamatan Ubud, Gianyar mempunyai luas wilayah mencapai 150 hektar. Dari jumlah tersebut, sepertiganya kini masih merupakan hamparan sawah yang mempunyai potensi sendiri di tengah maraknya Kedewatan sebagai bagian dari desa pariwisata. Desa yang pernah disinggahi Sri Mpu Markandya ini mempunyai krama desa berjumlah 2.237 tersebar di dua banjar, yakni Banjar Kedewatan dan Banjar Kedewatan Anyar.

Dalam kehidupan warga yang heterogen, berbagai profesi juga dilakoni oleh krama Desa Kedewatan. Mulai dari bertani sebanyak 710 orang, pegawai swasta 415 orang, pedagang 76 orang, sektor pertukangan sebanyak 50 orang dan PNS/Polri sebanyak 40 orang. Batas desa sebelah barat yang merupakan Sungai Ayung, menjadikan Kedewatan sebagai daerah yang asri sehingga banyak investor melirik untuk berinvestasi membangun usaha dalam sektor pariwisata.

Hadir hotel berbintang, vila, penginapan, serta artshop yang berada di wewidangan desa pakraman menjadi salah satu pendapatan desa yang cukup menjanjikan. Di samping sektor pariwisata, keberadaan sektor pertanian di Kedewatan juga memberikan keuntungan dalam menunjang pariwisata. Meski tidak dimungkiri akan konversi lahan yang terjadi, Desa Pakraman Kedewatan masih mempunyai lahan produktif untuk bertani. Walaupun, yang menggarap lahan pertanian tersebut lebih banyak dari penyakap.

Ini karena warga menyadari kalau sektor pertanian memiliki peran yang penting. Selain sebagai lahan penghidupan, juga desa ini banyak didatangi turis karena kondisi alam dan pertaniannya yang masih cukup asri. Maka tak mengherankan banyak investor pariwisata yang datang ke desa ini. Pihak hotel untuk kepentingan bisnis pariwisata telah menjadikan lahan persawahan sebagai objek. Dan, ini bisa menghasilkan uang sebagai pendapatan Desa Pakraman Kedewatan. Seperti lahan laba pura sekitar 69 are yang sampai kini masih dikelola sebagai lahan pertanian dimanfaatkan oleh salah satu hotel berbintang dijadikan sebagai view.

Bendesa Pakraman Kedewatan Sang Putu Eka Pertama yang ditemui di sela kesibukannya mempersiapkan piodalan di Pura Puseh/Bale Agung dan pawintenan prajuru desa mengungkapkan, potensi pariwisata dalam hal ini dilakukan tanpa harus merusak alam. Konsep menyatu dengan alam dilakukan sehingga lingkungan Kedewatan sangat tertata. Dalam hal ini konsep Tri Hita Karana masih dipegang teguh oleh masyarakat. ''Kepemimpinan yang dilakukan tetap berbasis budaya yang di-back-up dengan manajemen modern,'' katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar