Jumat, 06 November 2009

Sekilas Tentang Pura Dalem Swargan Kedewatan

Pura Dalem Swargan, Kahyangan Para Dewa


Menarik untuk diungkapkan, bahwa di Desa Adat Kedewatan, salah satu parhyangannya sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi, dalam berbagai prabhawa dan istadewataNya, disebut Pura Dalem Swargan. Sehingga kalau dipikirkan secara anwiksaki, Pura Dalem Swargan ini, adalah berlokasi di Sorga, tempat para Dewa, sering pula disebut Kedewatan. Sehingga wajar saja dan logic pula kalau di Desa Adat Kedewatan, berlokasi Pura Dalem Swargan, Kahyangan para Dewa itu.
Selaras dengan pemikiran mitologis dan legendaris seperti itu eksistensi Desa Adat Kedewatan dengan Pura Dalem Swargan-nya, adalah tidak akan dapat dipisahkan dari perjalanan dharmayatra dan tirtayatra Maharsi Markandhya, dari Desa Damalung di kaki Gunung Adihyang, (pegunungan Dieng), yang berlokasi dekat Wonosobo, (propinsi Jawa Tengah), Kemudian dari Desa Aga yang berlokasi di kaki Pegunungan Adihyang itu, Maharsi Markandhya, melanjutkan perjalanan dharmayatra dan tirtayatranya ke Gunung Raung, (propinsi Jawa Timur), terus melakukan Tapa Semadhi, dan mendapatkan pawisik, agar melanjutkan perjalanan dharmayatra dan tirtayatra ke arah Timur, menuju gunung Agung, yang berlokasi di Balidwipa. Kemudian, Maharsi Markandhya, berangkat menuju gunung Agung di Balidwipa, dengan menyeberangi Sagara Rupek, bersama pengiring Wong Aga-nya, yang berasal dari Desa Aga, yang berlokasi di kaki Gunung Raung, tempat Maharsi Markandhya, nangun tapa semadhi, setelah pindah dari Desa Damalung, di kaki pegunungan Dieng, di Jawa Tengah.
Sebelum mengemukakan perjalanan dharmayatra dan tirtayatra di Balidwipa, sampai terjadinya asal-usul Desa -desa Adat di sekitar Munduk Gunung Lebah dan Campuhan Tukad Yeh Wos Kiwa - Tengen, atau lanang wadon, seperti Desa Adat Ubud, Desa Adat Kedewatan, Desa Adat Payogan, Desa Adat Lungsiakan. Desa Adat Payangan termasuk Desa Adat Taro, Desa Adat Puakan dan 11 Banjar lainnya, lebih dahulu akan dikemukakan asal-usul Maharsi Markandhya.

Menurut sumber riptaprasasti, seperti yang dikemukakan dalam Lontar Bhwanatatwa Maharsi Markandhya, pada Waktu dahulu kala, Maharsi Meru, mengambil seorang istri, yang cantik dan sempurna (listu ayu paripurna) Entah berapa tahun sudah kedua dampati itu melaksanakan swadharmanin alaki rabi. Lalu berputra dua orang. Yang sulung abhiseka Sang Ayati. Adiknya abhiseka Sang Niata. Kedua orang putra Sang Maharsi Meru, bagus-bagus, bijak dan sastraparaga, (padapada apekik listu paripurna, wicaksaneng aji, wibuhing sastra utama). Kemudian setelah sebagai grahastin, Sang Ayati berputra, yang abhiseka Sang Prana. Dan demikian pula adiknya, Sang Niata, setelah sebagai grehastin, lalu berputra Sang Mrakanda. Kemudian Sang Mrakanda beristrikan Dewi Manaswini, lalu berputra Maharsi Markandhya.
Kemudian Maharsi Markandhya, beristrikan Dewi Dumara. Dari perkawinan Maharsi Markandhya ini, lalu menurunkan Maharsi Dewa Sirah, yang kemudian beristrikan Dewi Wipari, yang menurunkan banyak putera. Demikian dikemukakan asal-usul Maharsi Markandhya, menurut sumber riptaprasasti, yakni Lontar Bhwanatattwa Maharsi Markandhya.

Masih meniti sumber riptaprasasti ini, dikemukakan bahwa Sang Ila putra Maharsi Trenawindhu, sisia Maharsi Agastya, yang bertapa di Jawadwipa Mandala. Demikian pula Sang Aridewa dan Anaka, melakukan tapa samadhi di Adi Hyang, yang sekarang disebut Dieng, seperti halnya Maharsi Markandhya juga bertapa di pegunungan Adi Hyang (Dieng), di Wukir Damalung, di Jawadwipa Mandala. Apa yang dikemukakan dalam riptaprasasti, Lontar Bhwanatattwa Maharsi Markandya itu, kalau kita bandingkan dengan sumber tamraprasasti, yang memiliki nilai sejarah yang autentik seperti yang dikemukakan dalam prasasti Dinaya yang berangka tahun 682 Saka, (760 Masehi), dikemukakan bahwa Maharsi Agastya yang mengembangkan ajaran Trimurthipaksa di Bhumi Nusantara ini, yang merupakan penyatuan ajaran tiga paksa, yakni Salwapaksa, Brahmanapaksa, dan Waisnawapaksa, yang juga berkembang di Balidwipa Mandala. Sehingga dalam tamraprasasti, prasasti Dinaya ini, Maharsi Agastya, juga abhiseka Sri Bhatara Guru.

Demikian titik temu antara sumber riptaprasasti dengan tamraprasasti, dalam kontekstual asal-usul Maharsi Markandya yang pada mulanya anangun tapa samadhi di Adi Hyang (Dieng), yang juga menjadi tempat anangun tapa samadhi Sang Ha, putra Maharsi Trenawindhu, sisia Maharsi Agastya, yang menyebarkan ajaran Trimurthipaksa di Bhumi Nusantara, terutama di Jawadwipa Mandala dan Balidwipa Mandala.

Selanjutnya kembali dikisahkan perjalanan Maharsi Markandya, dari Gunung Raung, yang menurut Lontar Markandhya Purana, juga disebut Gunung Dewata, menuju Gunung Agung di Balidwipa Mandala.

Pada waktu masih melakukan yoga, tapa samadhi di Gunung Raung atau Bukit Dewata (Jawa Timur), Maharsi Markandhya mendapatkan pawisik Sang Hyang Prajadhipa atau Sang Hyang Jagatnatha, agar membina dan melakukan yasakirti terhadap kawasan desa-desa di kaki Gunung Agung, Kahyangan Sang Hyang Pasupati, yang berasal dari salah satu agraning (puncak) Gunung Semeru, di Jawa Timur.

Setelah mendapatkan pawisik seperti itu. Kemudian Maharsi Markandhya lalu mengumpulkan 8000 orang Wong Aga, (Wang Gunung), yang akan mengiring Maharsi Markandhya ke Gunung Agung, di Balidwipa Mandala. Tidak diceritakan perjalanan pengiring Wong Aga di bawah pimpinan Maharsi Markandhya dari Gunung Raung menuju Gunung Agung, yang perjalanan dilakukan siang - dalu, tidak terhitung lwah, jurang, rejeng, pangkung yang dilalui oleh rombongan itu. Termasuk Pula hutan belantara yang masih perawan yang penuh dengan marabahaya, berupa berbagai jenis makhluk halus dan binatang buas. Tetapi berkat kewibawaan hasil yoga samadhi dan ketetapan hati Sang Maharsi, untuk melaksanakan dawuh wacana pawisik Sang Hyang
Prajadhipa, akhirnya rombongan Maharsi Markandhya dengan 8000 orang pengiring Wong Aga-nya, akhirnya tiba dengan selamat di Gunung Agung.

Kemudian di kawasan hutan belantara di kaki Gunung Agung yang dipilih pada waktu itu Maharsi Markandya, lalu memberi petunjuk, agar pengiringnya membuat pondok untuk masayuban. Setelah semua pengiringnya membuat pondok, Sang Maharsi lalu memerintahkan agar semua pengikutnya mulai merabas hutan di kawasan kaki Gunung Agung yang tenget dan madurgama itu. Setelah para pengikut Sang Maharsi merabas hutan beberapa hari, tiba - tiba langit menjadi mendung, dan hujan lebat pun turun, seperti air dicurahkan dari langit saja laiknya. Hujan yang lebat itu, disertai oleh kilat tatit yang menggelegar sambung - menyambung, sehingga kawasan hutan itu seperti diguncang saja laiknya. Hujan itu tak pernah reda selama tujuh bulan, sehingga langit di kawasan kaki Gunung Agung itu menjadi gelap gulita. Palung-palung di kaki Gunung Agung itu kebanjiran. Semua lembah, penuh dengan genangan air. Seolah-olah dunia ini akan pralaya di akhir yuga.
Kondisi alam yang seperti itu, berakibat banyak di antara pengiring Sang Maharsi menjadi sakit mendadak, yang kemudian meninggal. Selama kurun waktu tujuh bulan itu, dengan hujan deras yang tak henti-hentinya makin banyak pengiring Sang Maharsi yang sakit dan meninggal. Pagi sakit, waktu siang harinya lalu meninggal. Pengiring yang masih hidup, yang menggotong pengiring yang telah meninggal itu untuk menguburkan, sore hari itu sudah jatuh sakit, lalu keesokan diwaktu pagi harinya telah meninggal. Demikianlah keadaan Wong Aga, pengiring Maharsi Markandya pada waktu itu. Itulah yang disebut Grubug Agung Bah Bedeg. Di samping para pengiring Maharsi Markandya banyak yang meninggal karena ditimpa sakit mendadak, banyak pula yang meninggal dan hilang karena di mangsa binatang buas, yang tak terbilang banyaknya di kawasan hutan di kaki Gunung Agung itu. Menjelang akhir bulan ketujuh, hujan mulai mereda, dan akhirnya reda sama sekali. Akhirnya Wong Aga pengiring Sang Maharsi yang berjumlah 8000 orang itu, hanya masih hidup 200 orang saja.

Menanggapi situasi dan kondisi seperti itu, Maharsi Markandhya yang waskita, menjadi maklum, bahwa pada saat Sang Maharsi mulai merabas hutan di sana, belum melakukan Upacara Ngatur Piuning kehadapan Ida Bhatara To (Toh) Langkir. Yang berparhyangan di agraning (puncak) Gunung Agung.

Untuk keberhasilan melaksanakan dawuh pawisik Sang Hyang Prajadhipa atau Sang Hyang Pasupati, untuk membina Desa-desa di kawasan kaki Gunung Agung itu, tidak mungkin akan dapat dilaksanakan hanya dengan 200 orang pengiring. Akhirnya Maharsi Markandhya kembali lagi mencari wadwa kawula Wong Aga ke Desa Aga dan sekitarnya, di kaki Gunung Raung, di Jawa Timur. Wadua kawula yang berhasil dikumpulkan berjumlah 4000 orang. Pengiring yang berjumlah 4000 orang ini semuanya membawa sekta atau paksa agama masing-masing, yang dianut oleh mereka sejak dari tanah Hindu, (Bhatarawarsa - India). Jenisnya ada enam sekta (paksa), seperti yang dikemukakan dalam Lontar Sadagama di Bali. Masing-masing rinciannya adalah : (1) Sambhupaksa, (2) Brahmapaksa, (3) Indrapaksa, (4) Kalapaksa, (5) Bayupaksa dan (6) Wisnupaksa. Sebenarnya dalam penjelasan seperti yang dikemukakan dalam Lontar Markandhya Purana itu, hanya ada perbedaan pelaksanaan tata upacara saja, tetapi basic ajaran filsafatnya sama saja.

Setelah beberapa hari tiba kembali di kawasan hutan kaki Gunung Agung, kemudian pada hari subhadiwasa yang pas Maharsi Markandhya bersama para pengiringnya melaksanakan Upacara Matur Piuning kehadapan Ida Bhatara Tolangkir, yang berparhyangan di rangkaian dengan persembahan dan pemujaan caru atau tawur, dan kemudian dilanjutkan dengan mamendem pancadatu, (emas, perak, besi, tembaga, suasa dan permata mulia) di lokasi yang disebut Basukihan, yang menjadi lokasi Pura Basukihan (sekarang). Kata Basuki itu sendiri (Jawa Kuna), berarti selamat. Memang sejak Maharsi Markandhya mamendem pancadatu di Basukihan, Sang Maharsi dengan 4000 orang pengiring Wong Aga-nya, menjadi selamat dan rahayu di Balidwipa Mandala. Selanjutnya setelah melakukan Upacara Ngatur Piuning, persembahan dan pemujaan caru atau tawur, yang dilanjutkan dengan mamendem pancadatu di Basukihan, juga dilakukan Upacara Mamarisudha, parta Atma yang meninggal pada waktu di timpa sakit mendadak waktu dulu, saat diguyur hujan selama tujuh bulan, sehingga para pengiringnya yang meninggal pada waktu itu, jasadnya tidak menjadi Bhuta Cuwil yang ngarugada umat manusia di lingkungannya. Sedangkan Atma mereka dapat kembali ke Sangkan Paran, atau Luluh menyatu dengan paratman (Brahman).
[Kembali ke atas]

Betul saja, setelah melakukan serangkaian upacara Maharsi Markandhya bersama 4000 orang pengiring Wong Aga-nya menjadi rahayu. Di bawah pimpinan Maharsi Markandhya sendiri, para pengiring ini lagi membangun desa, untuk mencari lokasi hutan yang lain, yang akan dirabas, untuk berjalan ke arah neriti (Barat Daya), dari Basukihan (Besakih sekarang), yang berlokasi di arah neriti (Barat Daya) kaki Gunung Agung.

Setelah rombongan itu menempuh perjalanan beberapa hari akhirnya rombongan Maharsi Markandhya, tiba disuatu kawasan yang ada sosok bukitnya melintang dari arah Selatan ke Utara. Di sebelah Barat dan Timur sosok bukit yang melintang itu, atau di sebelah kiri dan kanan sosok bukit itu mengalir dua batang sungai yang airnya jernih sekali. Sehingga situasi visual bukit yang melintang seperti itu, seolah-olah bukit itu dibelit dan dijaga oleh dua Naga Ananta bhoga dan Naga Vasuki (Basuki) saja laiknya. Sosok bukit yang melintang itu bernama Gunung Lebah. Sedangkan kedua sungai yang mengitari bukit itu, yang di sebelah Baratnya bernama Tukad Yeh Wos Kiwa. Sedangkan sungai yang di sebelah Timur Gunung Lebah itu, disebut Tukad Yeh Wos Tengen. Kedua batang sungai itu, bertemu atau menyatu di bagian Selatan Gunung Lebah, dan kawasan itu kemudian disebut Campuhan (Pecampuhan). Dalam filsafat adisrsti (ciptaan mulia), Tukad Yeh Wos Kiwa, itu juga disebut sebagai nyasa pradhana, atau dalam ungkapan bahasa domestik, disebut Tukad Yeh Wos Luh. Sedangkan Tukad Yeh Wos Tengen, itu juga disebut sebagai nyasa purusha, atau dalam ungkapan bahasa domestik, disebut Tukad Yeh Wos Muani. Pecampuhan atau pertemuan dan bersatunya antara purusha dan pradhana itu akan melahirkan adisrsti (ciptaan mulia), atau akan melahirkan kewibawaan dan kekuatan sakala dan niskala, seperti kekuatan yoga semadhi Maharsi Markandhya. Atau dalam versi lain, kekuatan ciptaan mulia patemoning purusha - pradhana itu, tidak ada bedanya dengan patemoning Bapa Akasa kalawan Ibu Prthiwi, yang melahirkan berbagai ciptaan mulia, yang menyebabkan umat manusia menjadi makmur, sejahtera, rahayu sakala mwang niskala. Atau ada juga para sastra paraga, yang mengemukakan bahwa pertemuan (pecampuhan) antara Tukad Yeh Wos Luh dengan Tukad Yeh Wos Muani, adalah juga sebagai nyasa payogan Dewa Brahma, dengan shaktiNya Saraswati Dewi, yang melahirkan berbagai ciptaan mulia mulai dari cosmos (bhwana) ini dengan segenap isinya, termasuk berbagai cabang ilmu pengetahuan (vidya), yang mencerdaskan umat manusia, yang pada akhirnya akan dapat menumbuh kembangkan berbagai ciptaan umat manusia, sesuai dengan perkembangannya, untuk mencapai kesejahteraan hidup dan kehidupannya.

Rasanya kurang lengkap, kalau sedikit tidak dikemukakan keadaan sosok Gunung Lebah, menurut sumber Lontar Markandhya Purana itu. Bahwa pengiring Maharsi Markandhya, yang merabas hutan di kawasan Gunung Lebah itu, sedikit sekali menemukan pohon-pohon kayu yang besar. Lebih banyak sosok Gunung Lebah itu, ditumbuhi oleh alangalang, sampai ke perbatasan sosok Gunung Lebah di bagian sebelah Utaranya. Agak ke Utara sedikit dari batas bagian Selatan Gunung Lebah itu, tumbuh pohon beringin yang ngerempayak, yang akar angin (bangsing-nya), sampai ke bagian bawah, terjalin begitu alami, sehingga mampu menumbuh kembangkan rasa spiritual yang dalam, lebih-lebih lagi dibelit oleh tumbuh-tumbuhan sulur-suluran yang menghijau, sehingga tercipta suasana yang sakral, bagi mereka yang memiliki kemampuan untuk menikmatinya. Juga ada di sana tumbuh pohon Nagapushapa, (Nagasari), seperti murdhaning taru, lata, gulma, janggama, sthawara yang tumbuh dan hidup di sana.
Oleh Maharsi Markandhya bersama para pengiring Wong Aga-nya, di tempat itu lalu dibangun sepelabahan parhyangan yang disebut Pura Gunung Lebah, tempat suci untuk ngadegang dan ngarcana Hyang Bhatari Danun ring Gunung Batur, yang menurut beberapa riptaprasasti, juga berasal dari salah satu puncak Gunung Semeru, Parhyangan Dewa Pasupati, puncak tertinggi Pegunungan Tengger di Jawa Timur. Di punggung Gunung Lebah itu, di bagian Utara dan Selatannya tumbuh pohon Bodi, dan dari bawahnya ada mengalir air yang kecil yang air jernih dan menyegarkan sekali. Tempat keluarnya mata air itu, disebut Taman Beji, yang merupakan pasiraman dan pasucian Dewa dan Dewi yang berparhyangan di sekitar kawasan itu. Air ini terus mengalir ke sungai di kaki Gunung Lebah di bagian Barat, sampai ke tepi kedua jurang disana. Tidak jauh dari Pura Gunung Lebah dan sumber air di taman Beji itu, ada sepelebahan Pura Alit, warnanya putih, sehingga air yang mengalir dari sana disebut tirtha banyu tabah, yang memberikan hidup dan kehidupan, Selain dari air yang mengalir dari jurang - jurang yang tidak begitu dalam seperti yang telali dikemukakan, tidak jauh dari Taman Beji itu, ada lagi keluar air yang menghadap ke Timur, yang disebut Tirta Sudhamala, yang melebur sarwa mala, papa klesa ring sajeroning kauripan. Atau dengan kata lain akan mamarisudha kekotoran fisik dan batin, umat manusia dalam hidup dan kehidupan. Semua air dari patirtha - Patirthan yang telah dikemukakan, akhirnva mengalir ke Campuhan sehingga kekuatan kesucian pacampuhan Tukad Yeh Wos Luh dan Tukad Yeh Wos Muani, menjadi bertambah lagi, yang memberi kesejahteraan hidup dan kehayon semakin ajeg.
Selanjutnya adalah patirthan yang berlokasi di bagian ersanya (Timur Laut) Pura Gunung Lebah. Di salah satu tempat ada mata air yang keluar dari Selatan menghadap ke Utara. Tirtha ini disebut Tirtha Salukat, adalah berfungsi untuk malukat regeding stulasarira janane sami. Tirtha Salukat ini pun akhirnya mengalir juga ke Campuhan Tukad Yeh Kiwa dan Tukad Yeh Wos Tengen. Di bagian Tukad Yeh Wos Tengen (Timur) ada lagi tirtha yang keluar dari tengah gua menghadap ke selatan, yang disebut Tirtha Ring Gua, tidak ada yang mengetahui fungsinya. Tirtha Ring Gua ini, mengalir ke selatan dan akhirnya juga mengalir ke Campuhan, sehingga kewibawaan dan kesucian Pecampuhan Tukad Yeh Wos Kiwa dan Tengen semakin betambah lagi.
Lagi pula disekitar tebing-tebing Gunung Lebah dan Pura Gunung Lebah itu, ada banyak sekali mata air yang keluar, dan banyak di antaranya yang tidak bernama, ada pula di antaranya yang bernama. (Untuk kenyataan ini, bagi mereka yang berminat, di masa-masa yang akan datang perlu diadakan study dan penelitian secara fisik, sehingga ada keharmonisan antara study dan penelitian literatur atau sumber-sumber tertulis pada umumnya), sehingga kelestarian dan keutuhan eksistensi Gunung Lebah dan Pura Gunung Lebah, serta Pura di sekitarnya akurasinya dapat lebih dipertanggungjawabkan bobot ilmiah, ilmu pengetahuannya.
Juga masih meniti sumber riptaprasasti, Lontar Markandhya Purana yang telah dikemukakan, eksistensi sosok Gunung Lebah yang dikitari oleh Tukad Yeh Wos Kiwa dan Tengen, dan juga di tebing-tebingnya banyak keluar mata air (tirtha suci), diumpamakan sebagai Gunung Mahameru di Bharatawarsa, dengan Sapta Gangganya, seperti puja paganggan yang dirapalkan oleh para Wiku setiap pagi, pada waktu Nyurya Sewana, untuk memohon kehayon jagat dengan segenap isinya ke hadapan Hyang Widhi. Dalam Weda, atau Puja Pangganggan yang dirapalkan setiap pagi, pada waktu Nyurya Sewana oleh para Wiku di Bali, Saptagangga itu, adalah:

1.Sungai Gangga
2.Sungai Sindhu
3.Sungai Saraswati
4.Sungai Wipasa
5.Sungai Kausika
6.Sungai Yamuna, dan
7.Sungai Serayu.
(Penulis; dalam sumber lain, ada versi dan visi rincian Saptagangga yang lain). Seperti itulah perumpamaan para wipra, terhadap eksistensi kawasan Gunung Lebah dengan pecampuhan Tukad Yeh Wos Kiwa dan Tengen, dengan banyaknya ada tirtha yang keluar di tebing kiri dan kanan kedua batang sungai itu, yang semuanya mengalir ke campuhan Tukad Yeh Wos Kiwa - Tengen, Luh - Muani itu, sehingga air pecampuhan kedua sungai itu betul-betul dianggap suci, bermakna, dan memiliki kekuatan serta kewibawaan, yang mampu menumbuh kembangkan berbagai kekuatan dan kesejahteraan dalam hidup dan kehidupan umat manusia, selaras dengan konsep ajaran filsafat adisrsti yang telah dikemukakan.


Setelah beberapa waktu lamanya Maharsi Markandhya bersama pengiring Wong Aga - nya melakukan perabasan hutan di kawasan Gunung Lebah, sampai membangun Pura Munduk Gunung Lebah dengan rangkaian Upacaranya, kemudian Maharsi Markandhya terus melakukan tapa, brata dan yoga samadhi di sana. Sehingga berkat yoga samadhi-nya itu keadaan rombongan Maharsi Markandhya dapat terus menikmati kerahayon. Selanjutnya, setelah melakukan peninjauan lingkungan di sekitar kawasan Gunung Lebah itu, kemudian rombongan Sang Maharsi, melanjutkan perjalanan ke arah Utara, dari Gunung Lebah itu. Sudah agak jauh ke hulu dari kedua Tukad Yeh Wos Kiwa - Tengen itu, tibalah rombongan itu dikawasan Janggala Jimbar, yang juga merupakan kawasan hutan yang teduh. Sang Maharsi memerintahkan untuk mengaso. Setelah sekedar dapat melepaskan lelah, Maharsi Markandhya lalu melakukan yoga samadhi disana. Kawula dan para pengiringnya itu pun juga melakukan perabasan hutan di sana.
Kemudian di lokasi Janggala Jimbar itu Maharsi Markandhya nagun sepelebahan parhyangan, yang disebut Pura Pucak Payogan. Kawasan itu, juga disebut Janggala Payogan, atau Desa Adat Payogan; sekarang. Karena keberhasilan merabas hutan di kawasan itu, berlatar belakang dari keberhasilan Sang Maharsi melakukan yoga di tempat Payogan itu.
Yang berparhyangan di Pura Pucak Payogan itu adalah Sang Dewa Rsi atau Bhatara Luhuring Akasa, seperti yang dikemukakan dalam sumber riptaprasasti, Lontar Widhisastra dan Lontar Rogha Sangharabhumi. (Catatan penulis; perjalanan dharmayatra dan tirtayatra Maharsi Markandhya ke arah Utara lagi dari Pura Pucak Payogan, sampai di Taro Bhumi Sarwada dan sekitarnya, tidak dikemukakan dalam tulisan kecil ini, karena yang difokuskan adalah eksisintensi Desa - desa Adat Kedewatan dengan Pura Dalem Swargannya, karena pada awal tahun 2000 atau awal Millenium III, di Pura Dalem Swargan dipersembahkan Karya Agung Mamungkah, Ngenteg Linggih, Tawur Agung, Mapedanan mwang Panyegjeg jagat, oleh Krama Desa Adat Kedewatan, bersama Perangkat prajuru Desa Adatnya, Sasepuh dan para pangelingsir Desa Adatnya. Termasuk penulisan buku kecil ini, adalah sehubungan dengan persembahan dan pemujaan Karya Agung itu. Mudah-mudahan Hyang Widhi dan Ida BhataraBhatari Samodaya, mengijinkan penulis untuk menulis lanjutan perjalanan Maharsi Markandhya bersama pengiring Wong Aga-nya di sekitar Taro Bhumi Sarwada, asal-usul Desa Adat Puakan, sekarang, sampai eksistensi 11 Desa (banjar), di sekitar Desa Adat Taro sekarang.
Selanjutnya adalah pengungkapan asal-usul Desa Pakraman (Desa Adat) disekitar Gunung Lebah dan Pacampuhan Tukad Yeh Wos Kiwa dan Tengen, yang memiliki kontekstual dengan perjalanan dharmayatra dan tirthayatra Maharsi Markandhya, yang banyak dikemukakan asal-usulnya secara kiratabasa. Memang merupakan kenyataan diakui atau tidak, bahwa dalam tata kehidupan beragama, adat dan budava Bali, banyak sekali pengungkapannya berdasarkan kiratabasa.
Contohnya, pada waktu dilaksanakan Upacara Natab Banten Pakalan-kalan, yang merupakan rangkaian awal Upacara Pawiwahan (Pasakapan) akhir dari Upacara Natab Banten Pakalan-pakalan, adalah nanem kunyit endong di belakang Sanggah atau Pamerajan Kamimitan, secara kiratabasa adalah merupakan doa bagi kedua mempelai yang menanam kunyit endong, agar mara ngajengit suba ngalendong. Artinya, agar kedua mempelai begitu suai melaksanakan upacara pasakapan (Pakerabkambe), pada saat mulai berusaha mengayuh bahtera rumah tangganya, agar cepat menjadi, berkembang dan berhasil.
Mengungkap nama-nama Desa Adat di sekitar Gunung Lebah dan Campuhan Tukad Yeh Wos Kiwa - Tengen itu pun, banyak secara kiratabasa seperti itu. Seperti halnya Desa Adat Lungsyakan (sekarang), dalam Lontar Markandya Purana, dikemukakan berasal dari kata ; lung, yang berkembang menjadi kata luung, (luhung), yang memiliki konotasi arti; rahayu. Syakan, berasal dari kata saka, yang berarti panah, yang berkembang menjadi dan berarti manah, sehingga kata lungsyakan itu berarti ; manah rahayu, pikiran yang baik dipedomani dan dilaksanakan dalam hidup dan kehidupan, sehingga juga prasida amangguh rahayu.
Satu desa lagi, tidak jauh dari Gunung Lebah dan Tukad Yeh Wos Kangin, dan Campuhan Tukad Yeh Wos Kiwa dan Tengen itu, atau Kangin dan Kauh itu, berlokasi Desa Adat Ubud ; sekarang. Asal-usul nama Desa Adat Ubud itu berasal dari ; U yang berarti ulah sama artinya ; sila, solah atau prawerti. Bud, Bu ; artinya bhudi, dha, dharma, yang kalau dijabarkan berarti ; dapat membawa diri, mampu masolah maprawerti manut dudonan tata lungguh, yang sama artinya; mengetahui dan berani mengemukakan yang benar dan yang salah, mabenar tan mabenar, iwang kalawan patut, sehingga prasida amangguh dharma patut sakala mwang niskala. Sehingga dimasa mendatang amangguh bud (budhi) satya, sadhu dharma, semasa hidup digunakan untuk menegakkan dharma itu sendiri di dunia, yang merupakan ubad papa
naraka. Sehingga dharma itu, juga merupakan ubad paleburaning dosa, dasamala narakaloka. Seperti itu asal-usul Desa Ubud, (sekarang), menurut sumber riptaprasasti, Lontar Markandhya Purana.
Kembali menuju arah Barat Gunung Lebah dan Campuhan Tukad Yeh Wos Kiwa -Tengen, di sana Maharsi Markandhya bersama para pengiring Wong Aga-nya, terus menuju ke arah Utara, lalu bertemu dengan lemah yang banyak ditumbuhi oleh pohon Bunut, sehingga sampai sekarang lemah atau kawasan itu disebut Desa Butan, (Desa Adat Bunutan ; sekarang), Term itu, sama halnya kalau jaja bali (jaja bagina, abug, sirat dan sebagainya, banyak ditumbuhi oleh oong, maka semua jaja bali itu disebut oongan. Demikian dikemukakan asal-usul Desa Adat Bunutan, sekarang, karena di lemah atau kawasan itu banyak tumbuh pohon Bunut, yang diketemukan oleh rombongan dharmayatra dan tirthayatra Maharsi Markandhya, yang terus menuju ke arah Utara.
Perjalanan dharmayatra dan tirthayatra Maharsi Markandhya beserta rombongannya terus menuju ke arah Utara. Tiba di suatu tempat, lalu melanjutkan merabas hutan di sana. Lama juga Sang Maharsi beserta rombongan melakukan tapa, brata, yoga samadhi di tempat yang Baru dirabas hutannya itu. Sampai karena tempat itu memiliki getaran dan kekuatan spiritual, kemudian di sana lalu dibangun pasraman, yang disebut pasraman Amurwa. Di pasraman ini juga dibangun parhyangan, yang lebih kemudian dikenal sebagai Pura Dalam Murwa, yang berarti ; parhyangan yang telah dibangun sejak dulu, (duke nguni, duk ri purwwakala).
Di samping itu dibangun juga sepelebahan Pura lagi, yang kemudian ditetapkan sebagai Pura Desa dan Bale Agung yang panjang sekali, dari sana asal-usul tempat itu disebut Desa Tangkup. Dan juga membangun parhyangan bhatara, yang kasiwi, kasungsung, kaayom oleh krama desa semua, sehingga menjadi pahyangan desa, genah hyang masthana ring palemahan krama desa inucap, sehingga desa itu menjadi pahyangan desa atau Desa Adat Payangan, sampai sekarang.
Kemudian datang menghadap serombongan orang menghadap Sang Maharsi, tatkala berada di Desa Pahyangan, genah para hyang masthana itu. Rombongan ini kehadapan Hyang Maharsi memohon lemah untuk membangun desa dan lahan pertanian. Maharsi Markandhya kemudian memberikan lemah yang berlokasi di sebelah Desa Adat Payangan sekarang. Karena Sang Maharsi dihadap pada saat berada di Desa Adat Payangan (sekarang) genah para Hyang mashtana, atau lokasi para Dewa bersthana, maka tanah yang dianugrahkan oleh Maharsi Markandhya kepada rombongan pemohon disebut Desa Kedewatan (Desa Adat Kedewatan; sekarang). Atau Desa Kedewatan itu, secara logic, adalah Desa para Dewata, sehingga disebut Kedewatan, atau Desa Sorga. Sehingga parhyangan yang dibangun di Kedewatan atau Sorga itu disebut Pura Dalem Swargan, karena berlokasi di Kedewataan (Kedewatan) atau Sorga.
Perbatasan hutan ke arah Selatan itu semakin luas, sehingga patok (katik) batas Desa Adat Kedewatan itu semakin luas ke arah Selatan. Sehingga lemah itu disebut Katik Lantang, katik yang lebih dipanjangkan atau diperluas pemancangannya sehingga Desa Adat itu disebut Desa Adat Katik Lantang, pada era sekarang ini.
Kembali kepada Desa Adat Kedewatan dan latar belakang asal-usul makanya disebut Desa Adat Kedewatan. Seperti telah dikemukakan di sini Desa Adat Kedewatan ini telah dibangun sejak dulu Pura Dalem Swargan. Krama Desa Adat Kedewatan sekarang, walau pun tidak berwujud para Dewa dan Dewi di Kedewataan (sorga), tetapi tetap sebagai pengempon, pangemong, sekaligus sebagai panyiwi dan panyungsung Pura Dalem Swargan, yang memiliki swadharma agama, yang berkepatutan untuk ngupahayu Pura Dalem Swargan, baik secara fisik maupun pangupahayu yang berupa tata upacara, dengan sadhana bhakti upakara (bebantennya).
Dalam usaha meninggalkan sradha dan bhakti, setelah melakukan pemugaran jajar kamiri unsur dan struktur palinggih-palingih Pura Dalem Swargan, agar kembali utuh semua unsur dan struktur palinggih Dalem Swargan yang telah selesai dipugar itu, akan dilaksanakan persembahan dan pemujaan Karya Agung Mamungkah, Ngenteg Linggih, Tawur Agung mwang Panyegjeg Jagat, yang rangkaiannya, sesuai dengan paica rahina subhadiwasa oleh Wiku Manggalaning Karya yang dituwur, telah dimulai sejak rahina Wharaspati Paing, Wara Kulantir, tanggal 18 November 1999 yang lalu, dan akan berakhir saat Ida Bhatara di Dalem Swargan, katuran Bhakti Panyineb, (Pangeluhuran) pada Rahina Redite Paing, Wara Pahang, tanggal 6 Februari 2000, dan Ida Bhatara di Dalem Swargan mur, pada Rahina Soma Pon, Wara Pahang, tanggal 7 Februari 2000.
Perlu dikemukakan bahwa Rahina Subhadiwasa yang tergolong adining karya, persembahan dan pemujaan Tawur Agung mwang Mapedanan, akan dilaksanakan pada Rahina Soma Wage, Wara Madangsia, tanggal 24 Januari 2000, dan rahina subhadiwasa adining karya, akan dilaksanakan pada Rahina Budha Umanis, Wara Medangsia, tanggal 26 Januari 2000

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar