Selasa, 17 November 2009

Ngaben Masal di Kedewatan

Pitra YadnyaMasal di Kedewatan melibatkan warga Amerika Serikat
Upacara Pitra Yadnya di Kedewatan - Ubud termasuk unik karena sawe yang diupacarai adalah salah satu warga Negara Amerikan Serikat yang bernama “Mr. Richard Davis Rieser” yang telah meninggal tahun lalu di negaranya, sedangkan dalam wasiatnya meminta diabenkan secara masal mengingat dia cukup lama menetap dan bergaul sama warga Kedewatan. Upacara ini dilaksanakan setiap empat atau lima tahun sekali tergantung banyaknya sawe. Di luar itu tidak dimungkinkan melaksanakan upacara ngaben kecuali bagi pemangku dan prajuru yang masih menjabat. Hal ini dimaksudkan agar tercipta keharmonisan antara penyelenggara upacara dan kesibukan warga dengan pekerjaan sehari-hari, apalagi banyaknya warga bekerja di bidang pariwisata. Selain itu juga dimaksudkan untuk meringankan dalam persiapan upacaranya, kata penglingsir karya sekaligus Bendesa Pakraman Kedewatan, Sang Putu Eka Pertama, SE, Ak yang juga dibenarkan oleh Ketua Panitia upacara yaitu Kelian Adat, Sang Made Putra dan Kelian Dinas, Dewa Gde Rai Darmanta.
Dalam upacara Pitra Yadnya secara masal ini, dibagi menjadi 4 tahapan yaitu: Atiwa-tiwa, Ngaben, Memukur, dan Ngalinggihan Dewa Pitara (Nilapati). Untuk tahun 2009 ini dilaksanakan lebih ringan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, mengingat pelaksanaan tahun ini menggunakan lahan pasar yang ada bangunan permanen, sedangkan tahun-tahun sebelumnya membuat bangunan khas Bali semi permanen yang tentunya memerlukan dana dan waktu yang cukup banyak. Selain itu juga, panitia yang dibentuk hampir 90% adalah krama yang tidak mempunyai sawe (orang yg diaben), sehingga memberi kesempatan untuk para penangga kosentrasi dalam proses upacara tsb. Hal ini mengandung makna bahwa semangat kebersamaan dan saling membantu antar krama cukup tinggi. Petedunan krama banjar untuk gotong royong sebagian besar dilaksanakan malam hari sekitar pk 06 sampai pukul 09 malam sehingga memberi kesempatan warga/krama untuk mencari nafkah biaya kehidupan sehari-hari.
Puncak upacara ngaben dilakukan akhir Agustus lalu yang juga dihadiri oleh Bupati Gianyar disertai Penglingsir Puri Ubud, sedangkan persiapan upacara dilaksanakan cukup singkat yaitu sekitar 2 minggu. Pelaksanaan kali ini melibatkan 50 sawe termasuk salah satu warga asing. Sedangkan jumlah petulangan (tempat pembakaran tulang) berupa Lembu, Singa, Lembu, Naga Kaang, dan Bale Geganjan sebanyak 22 buah. Upacara kali ini mengambil katagori Madyaning utama, sedangkan pihak panitia berusaha menekan biaya sekecil mungkin sehingga bisa terjangkau dan tidak memberatkan krama atau warga setempat.
Upacara ngaben kali ini dipuput oleh Ida Pedanda dari Gria Padang Tegal Ubud dan dibantu sekitar 15 Walaka yang dipimpin oleh Ida Bagus Agung dari Gria Padang Tegal. Sedangkan pada saat upacara Ngasti pada awal September dipuput oleh dua pedanda Siwa & Budha. Pada saat upacara Ngasti tsb akan dilaksanakan Upacara Potong Gigi secara massal yang jumlah pesertanya 131 orang termasuk satu warga asing, hal ini dilakukan untuk meringankan biaya krama atau warga setempat. Masing-masing peserta hanya dibebani dana Rp. 100.000.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar